-->

Tentang Anak-anak Dyspraxia

Oleh. Winny Gunarti


Apa itu Dyspraxia ?
Dyspraxia adalah kesulitan yang dialami seorang anak dalam melaksanakan proses  “pembentukan ide” untuk membuat sebuah gerakan terencana, proses dalam “perencanaan gerak” untuk mencapai idenya, dan proses “pelaksanaan gerakan “ atau action tersebut.

Ada tiga jenis Dyspraxia, yaitu:
1.  Dyspraxia oral, yaitu ketidakmampuan menghasilkan gerakan mulut, misalnya sulit mengunyah, menyebutkan huruf.
2.  Dyspraxia verbal, yaitu ketidakmampuan menghasilkan bunyi, membentuk kata, misalnya anak-anak yang mengalami speech delay.
Normalnya :
 -    Babbling 2 bulan.
-     Lalling 6 bulan
-     Echolalia / meniru 10 bulan
-     True speech 18 bulan

3. Dyspraxia motor, yaitu ketidakmampuan bergerak atau mengatur gerakan-gerakan yang perlu sesuai rencana.
Kemampuan motor terbagi atas :
-    Fine motor, seperti menulis, pegang sendok, memakai baju, mengikat tali sepatu.
-    Gross motor, seperti melempar dan menangkap bola, melompat, berlari.

Apa saja gejala-gejala Dyspraxia ?

Kemampuan menulis dan menggambar yang buruk
Kesulitan menjalankan instruksi
Sulit makan, dan cenderung pilih-pilih makanan.
Pola tidur yang buruk.
Tidak mampu duduk tenang.
Rentang perhatian yang pendek
Sering jatuh dan menabrak sesuatu
Tahap tumbuh kembang yang tidak tercapai.


Sumber dari gejala-gejala di atas, disebabkan adanya ketidakseimbangan dalam sistem integrasi sensori. Gangguan sensori akan mengganggu proses tumbuh kembang.

Integrasi sensori adalah proses neurological yang normal di mana kita mengatur sensasi-sensasi di sekitar kita untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari agar bisa “survive”, belajar dan berfungsi.

Gangguan yang terjadi pada sensori dikategorikan sebagai:
-    Seeker, akibat sensori yang kurang, sehingga cenderung mencari
-    Avoider, akibat sensori yang berlebih, sehingga cenderung menghindar.

Ada 7 modalitas sistem sensori, yaitu:

 1. Vestibular = Keseimbangan dan gravitasi
 Seeker = selalu bergerak, melompat-lompat
 Avoider = menolak digendong, tidak mau main ayunan.

2. Tactile = sentuhan
Seeker = menempel-nempel, merobek kertas, menjambak
Avoider = menghindari sesuatu yang bertekstur, tidak mau dipeluk.

3. Rasa sendi = proprioseptive
Seeker = melempar bola berlebihan, tulisan terlalu menekan.
Avoider = lemah melempar bola, tulisan terlalu tipis.

4. Visual = penglihatan
Seeker = bermasalah pada tracking/ lazy eyes.
Avoider = bermasalah pada scanning / menemukan benda kecil dalam bidang luas.

5. Auditory = pendengaran
Seeker = senang mendengar musik keras, suka membuat keributan
Avoider = tidak suka suara keras, sering menutup kuping.

6. Gustatory = pengecapan
Seeker = menggigit apa saja, makanan diemut.
Avoider = makan langsung ditelan, tidak mau sikat gigi.

7. Olfaktory = penciuman
Seeker = suka mencium-cium makanan
Avoider = tidak suka bau makanan yang menyengat

Apa  penyebab Dyspraxia?
-         Faktor genetik atau keturunan 30 %
-         Problem pasca melahirkan
-         Koneksi tertentu antar sel mengalami kekeliruan.

Strategi untuk mengajar anak dengan Dyspraxia :
  1. Teknik pengajaran harus tersusun, beruturan teratur, dan fokus.
  2. Pastikan guru memberi instruksi yang dipecah-pecah dan disederhanakan.
  3. Penting membangun kontak mata saat memberi instruksi, agar membantu konsentrasi.
  4. Instruksi yang diberikan harus konstan, sederhana dan tak berubah.
  5. Bersikap sabar dan bijaksana.
  6. Bersiap untuk mengulangi instruksi atau pelajaran dengan lembut, hubungkan dengan konsep tertentu sampai mereka paham.
  7. Gunakan pendekatan musik, ritme, fonologis, dalam hal bacaan, penulisan dan matematika, untuk membantu menguatkan daya ingat.
  8. Komunikasikan pengharapan dengan jelas dan singkat.
  9. Minta mereka mengulang tugas-tugas ynag diberikan.
  10. Berikan dorongan dan ingatkan terus tentang tugas dan urutannya.
  11. Sederhanakan pilihan, dan pastikan anak tahu ukuran waktu yang jelas saat mengerjakan sesuatu.
  12. Tetap waspada dengan kebutuhan anak.
  13. Minimalkan pengalih perhatian, biarkan papan tulis bebas dari informasi yang tidak perlu.
  14. Dudukkan anak di depan.
  15. Tetap tenang  menghadapi penolakan, mengingat anak dyspraxia rapuh secara emosi.
  16. Beri mereka waktu untuk relaks, karena mereka mudah lelah.
  17. Cari cara untuk memfasilitasi kemampuan bersosial dan berinteraksi.

Teknik untuk menolong anak Dyspraxia dengan pe-ernya:
-    Pasang jadwal di rumah dan  sekolah yang menunjukkan tugas dan tenggat waktu.
-    Pengukur waktu atau stopwatch sangat membantu mengatasi buruknya kesadaran akan waktu.
-    Prediksikan waktu dan rencanakan tugas-tugas.
-    Sederhanakan dan pecah-pecah tugas menjadi tahapan yang bisa dicapai.
-    Buat catatan harian pe-er.
-    Sekolah dan rumah harus bekerja sama dengan baik.

Kesulitan anak Dyspraxia saat memasuki sekolah lanjutan:
-    Masalah transisi
-    Banyak yang harus dilakukan untuk mempelajari lingkungan.
-    Wajah-wajah baru yang tak dikenalnya.
-    Jadwal pelajaran yang berubah-ubah.
-    Transportasi sekolah yang berubah.

0 Response to "Tentang Anak-anak Dyspraxia"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel