-->

Berbahasa


Oleh. Ari Wahyono

bahasa adalah kumpulan simbol bermakna

Setiap orang berbahasa. Oleh karena itu bahasa adalah nafas bagi kehidupan komunikasi. Bahasa adalah sesuatu…nah ‘sesuatu’ kan. Iya dia adalah sesuatu yang digunakan manusia untuk mempengaruhi dan mengirimkan makna. Sehingga makna inilah yang kemudia merubah situasi internal dalam diri individu yang berkomunikasi. Kemudian perubahan internal masing masing itulah yang merubah situasi.
Saya pernah melakukan test sederhana ini, saat itu ada 5 orang teman yang sedang diskusi hangat di serambi sebuah gedung. Kemudian saya datang dan menyapa mereka:
“Assalaamu’alaikum”
Serentak menjawab “ wa’alaikumussalam, monggo pak ari bergabung”
Saya senyum dan mereka 100% tersenyum. Kemudian saya duduk d tengah mereka dan kemudian mengeluarkan bungkusan berisi tempe goreng anget. Langsung saya buka dan saya katakan :” Silahkan dinikmati!”. Dan heran juga semua bereaksi sama. Mengambil bergantian dan memakan tempe goreng hangat. Cara mengambilnya sama dengan tangan kanan, dan memakannya dengan cara yang sama. Ada yang sedikit berbeda, diantara mereka ada 2 orang yang mengambil cabe kemudian menggigitnya sebelum tempenya di nikmati.
Bandingkan dengan situasi yang berikutnya ini, setelah 5 menit bangun tidur ibu Andika mengatakan “nak, ayo segera mandi yuk. Sudah jam 06 lebih 10menit  nih…”. Apa jawab si Andika?. Andika menyahut “Ga ah, males….dingin ma….aku ga mau sekolah pagi ini”.
Berkernyit bukan dahi kita. Apa bedanya situasi pertama dan kedua. Mari kita pelajari dari dunia NLP. Tentang bagaimana dan apa yang dialami mereka dalam kedua contoh situasi ini.
Di kedua situasi tidak ada penjelasan bukan bagaimana saya dan si ibu menarik tangan, menyentuh, atau mendorong lawan bicaranya?. Semua hanya mengeluarkan pernyataan dan sejumlah bahasa non verbal yangkemudian di maknai. Sementara hasilnya di peristiwa pertama, teman-teman saya beraksi dan merespons tepat seperti kata penting dalam kalimat intinya “makanlah”.  Sementara di peristiwa kedua andika mengalami penolakan kata penting yang diharapkan ibunya “segera mandi”.
Apa perbedaanya? Dan apa yang membuat perbedaan? Mari kita kupas secara sederhana. Pada kejadian pertama terjadi rentetan peristiwa yang dengan rentetan itu audience merespons dengan serempak dan sama. Saya memulai dengan salam “assalaamu’alaikum”. Ini adalah pembukaan komunikasi yang menaikkan tingkat atensi, dan sekaligus building rapport karena semua audience adalah muslim. Perlu diketahui bahwa bangunan tadi adalah masjid. Nah, tempat pertemuan ini juga merupakan rapport tempat. Kemudian saya mengambil posisi duduk bersama mereka ini rapport posture, rapport gesture. Tanpa pengantar saya mengeluarkan tempe goreng, yang secara umum audience menilai tempe goreng adalah makanan enak. Maka ketika saya keluarkan dan menyatakan “silahkan dinikmati!” mereka langsung merespon positif dan melakukan aksi sebagaimana saya harapkan.
Di peristiwa ke dua, ibu andika tidak menerapkan ini. Tempatnya berbeda, posisi postur dan gesture berbeda, dan yang di kirimkan pesannya adalah mandi pagi, yang secara umum mandi pagi adalah menyengsarakan karena siksaan dingin. Nah, saya tidak tahu seberapa banyak anda belajar dari perbandingan perstiwa ini.
Banyak hal yang di sekitar kita terjadi, sehingga kita memaknai kata kunci bahwa manusia atau  setiap individu pasti berbahasa. Oleh karena itu mendesain bahasa adalah sebuah kepastian ketika kita memiliki tujuan yang jelas terhadap apa yang kita komunikasikan. Pertanyaannya apa yang perlu didesain dari bahasa untuk berkomunikasi?
Unsur bahasa dalam komunikasi cukup bervariasi antara lain: Kualitas suara, intonasi, penekanan, jeda, ritme, tinggi nada, rangkaian nada, postur tubuh, bahasa tubuh, bahasa sikap, kerlingan mata, cara berpakaian, posisi postur-gestur, gerakan alis, mimic wajah, perubahan garis wajah dan sikap pembawaannya. Pada saat berkomunikasi semuanya tercampur yang bagi kebanyakan orang belum terdesain. Inilah mengapa terkadang komunikasi belum ketemu dengan substansinya.
Untuk meningkatkan kualitas komunikasi kita satu-satunya cara adalah dengan berkomunikasi dan selalu berusaha meningkatkannya dengan mengevaluasi-memperbaiki. Evaluasi termudah adalah memperhatikan respons. Dan memperbaikinya adalah dengan setidakya dua cara: pertama menghilangkan gangguan pesan dan kedua, mengubah pola bahasa nya. Adapun pola yang diterapkan semestinya mengacu kepada nilai-nilai yang diyakini komunikator dan komunikan.

0 Response to "Berbahasa"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel