G.A.U.L
Oleh. Adi Winarso, S.Pd, CM. NLP, MCh
![]() |
| Remaja GAUL |
Bismillahirrahmanirrahim...
Seorang pelajar berseragam SMP berlari tergopoh-gopoh menuju ke gerbang sekolah. Tas sekolah itu terbuat dari kain terpal hitam, dengan tali tas yang amat panjang, terbuat dari terpal yang sama, menggantung dari bahu kiri menyelempang sampai ke kaki sebelah kanan. Dari ayunan tas itu yang tampak ringan tersepak kaki saat anak remaja pelajar sebuah SMP di bilangan kota Yogyakarta berlari, jelas tampak bahwa remaja itu tidak membawa banyak buku.
“Ya, gaul, Sir!” mereka menjelaskan padaku saat aku menanyakan mengapa tali tasnya begitu panjang.
“Terus, kok banyak gambar serem?”
“Tengkorak, otak hancur... kan ngeri melihatnya!” aku makin penasaran.
“Ya itu sir, yang namanya GAUL...!!!” tiba-tiba Lupita, murid cewek kelas 8 juga ikut menjelaskan. Sambil menegaskan kata GAUL...!!! dia menganggukkan kepala dengan jari telunjuk mengarah ke atas seperti seorang guru BP yang sedang memarahi Johan anak paling bandel di sekolah.
Sekejap aku terkejut dan diam. Lupita yang aku kenal murid cukup kalem, bisa memaknai gaul jauh dari karakternya yang penurut pada orang tuanya.
“Pita, selalu manut kok Mr., dengan kami,” Suatu ketika Ayahnya Lupita bercerita tentang perilakunya.
“Apalagi sama Mamanya. Dia paling tidak bisa membantah kepada Mamanya. Berbeda dengan kakaknya. Bantaaaah... terus!” Pak Santoso, ayahnya lupita, sampai menganggukan kepalanya.
Namun, saat ini aku dihadapkan pada Lupita yang berbeda. Dia cukup berani untuk membela Yok, anak kelas 8 yang terlambat itu.
“Makannya, GAUL Mr.!!!” Lupita ketus mengucapkannya sambil menarik tangan Yok dari Guru Piket yang berjaga di gerbang sekolah.
“Hai, Yok! Lupita! Berhenti dulu...!” Pak Mumun, yang bertugas piket pagi itu, berusaha mengejar mereka.
“Sudah, Pak Mumun. Biarkan saja.” Aku menghentikan Pak Mumun dan mengajaknya duduk kembali di kursi guru piket.
Pak Mumun, guru muda lulusan UNY jurusan matematika, baru mengajar beberapa bulan di SMP Muhammadiyah 2 Depok. Melihat caranya berpakaian dalam masa percobaan mengajar, jelas tampak Pak Mumun bukan dari golongan the have. Kemeja lengan panjang yang dipakainya digulung sebatas siku. Satu kancing tangannya lepas. Warna kuning kecoklatan tampak menonjol di bagian belakang kerah. Tersembul menyelinap dari lehernya yang memang gempal. Pak Mumun sempat malu saat diminta timbang berat badan. Ya tubuhnya yang tinggi, 175 cm dan bobotnya yang mencapai 125 kg, bikin dirinya tak PD untuk mendekat ke alat timbang badan.
“Lalu, saya tulis apa Mr. Adi tentang Yok yang terlambat tadi?” Pak Mumun bingung.
“Terlambat karena kesiangan. Toh, memang itu yang sering dijadikan alasan kan? Yok, itu kalo malam bekerja di Game online.......(to be continue)

0 Response to "G.A.U.L"
Post a Comment